Strategi Meniti Karir di bidang Marketing (1)

September 17, 2008 pukul 4:10 am | Ditulis dalam tips bekerja | 1 Komentar
Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Bagaimana jenjang karier di bidang pemasaran yang dibilang ujung tombak
perusahaan? Masihkah menjadi primadona?

Pendidikan formal Iwan Purnama sangat jauh dari dunia pemasaran dan
penjualan. Ayah Winston Purnama dan Patrick Ullyses ini mengantongi
gelar sarjana akuntansi dari Universitas Atma Jaya. Kariernya pun
diawali sebagai auditor di Kantor Akuntan Publik Prodjo Sunarjanto,
Jakarta, tahun 1991. Bahkan, hingga pertengahan 1995, pria kelahiran 3
Mei 1970 di Jakarta ini pun masih berkutat dengan dunia akuntansi dengan
jabatan Auditor Senior Bank Dharmala.

Namun, tanpa diduga, ia malah dipercaya mengisi posisi Kepala Grup
Pemasaran di bank tersebut. ?Saya percaya diri saja,? ujar Iwan tentang
modal utama pindah ke bidang yang benar-benar baru baginya.
Kenyataannya, Iwan malah jatuh cinta pada dunia pemasaran. Menurutnya,
bidang pemasaran terlihat lebih dinamis. Pelakunya tertantang membuat
cerita baru, dari yang belum ada (nol) menjadi ada (riil). Artinya,
bidang ini membutuhkan kreativitas dan mengasah insting bisnis untuk
dapat segera mengendus dan menangkap peluang. Lalu, mewujudkannya.

Awalnya, Iwan lebih banyak berkutat di pemasaran dan penjualan produk
jasa perbankan dan keuangan. Pindah dari kerja di  Bank Dharmala, ia bergabung
dengan Sewu New York Life sebagai Manajer Agensi (1999-2000). Hanya
setahun ia di sana, kemudian pindah ke PT Ultra Biotech Indonesia,
perusahaan farmasi, sebagai Manajer Pemasaran (2000-02). Dan, akhirnya
berlabuh di Faber Castell Indonesia tahun 2002 sampai sekarang. Memulai
karier sebagai manajer merek, lalu naik sebagai manajer pemasaran dan
sekarang dipercaya sebagai Manajer Penjualan & Pemasaran Nasional Faber
Castell Indonesia sejak 2005.

Perjalanan karier Iwan tergolong mulus, semulus bidang pemasaran dalam
organisasi perusahaan saat ini. Ketika kejayaan sektor keuangan ambruk
tahun 1990-an, pamor profesi keuangan meredup. Sektor riil kembali
dilirik. Apalagi, tuntutan konsumen pun semakin tinggi. Kualitas bagus
dan inovasi tinggi bukan lagi cara yang ampuh untuk memikat konsumen.
Maka, perusahaan-perusahaan mengandalkan strategi baru: adu konsep,
strategi, gimmick dan taktik pemasaran.

Ads: lowongan kerja dan tips karir lainnya bisa dilihat pada klikkarir.com

Sejalan dengan itu, profesional di bidang pemasaran pun menjadi incaran
banyak perusahaan. Permintaan akan tenaga pemasaran meledak, dan
profesional andal bidang ini diperebutkan berbagai perusahaan, dan –
sesuai dengan hukum besi permintaan dan penawaran — imbalan
(remuneration & benefit) yang diberikan kepada pemasar pun melambung tinggi.

Maka, tak mengherankan, kini banyak pemimpin perusahaan (presdir atau
CEO) yang berasal dari kalangan pemasaran. Sebut saja, Elisa
Lumbantoruan, Presdir PT Hewlett-Packard Indonesia, atau Riko Sistanto,
CEO PT Asia Sejahtera Perdana Parmarcheutical ? produsen Kratingdaeng
dan You C 1000 — dan sederet nama lainnya.

Dan, layaknya pepatah lama, ada gula ada semut. Bidang pemasaran pun
menjadi incaran banyak orang. Di hampir semua perguruan tinggi yang
menyediakan konsentrasi manajemen pemasaran — S-1 ataupun S-2 –
pesertanya selalu membludak. Namun, berkarier di dunia pemasaran
tidaklah mudah. Jalur yang dilalui di bidang ini cukup berliku.
Dibandingkan dengan bidang lain, struktur organisasi di bidang pemasaran
jauh lebih njelimet. Terlebih pada perusahaan yang menggabungkan fungsi
penjualan dan pemasaran dalam satu divisi.

Struktur organisasi yang tergolong cukup sederhana, misalnya, diterapkan
PT Bentoel Prima. Struktur organisasi pemasarannya dari atas ke bawah:
CEO turun ke bawahnya ada chief marketing officer, di bawahnya lagi
general manager (GM) — ada empat GM: GM merek untuk sigaret keretek
tangan dan sigaret keretek mesin (SKM), GM merek untuk SKM mild, GM
lapangan dan GM riset. Di bawahnya baru ada manajer merek untuk setiap
merek, dan di bawah masing-masing manajer merek ada brand officer.
Pola struktur pemasaran yang dipakai Bentoel, menurut Ruby Chandra
Lionardi, GM Manajemen Merek BP, adalah pola yang digunakan pada
umumnya. Menurutnya, struktur organisasi bisa disesuaikan dengan
kebutuhan perusahaan. Namun, yang terpenting, kerja sama dalam tim
pemasaran. Kemampuan individu memang sangat dibutuhkan. Namun di
pemasaran, dikatakan Ruby, kerja sama tim adalah penunjang keberhasilan
yang utama. Semua bagian turut membesarkan merek. ?Tidak ada pekerjaan
di marketing yang bisa dicapai sendiri, semua tidak lepas dari teamwork.
Meski demikian, tidak menutup kemungkinan kemampuan setiap orang
menonjol,? ungkapnya.

Struktur yang lebih kompleks bisa ditemui di PT Unilever Indonesia Tbk.
Seperti diungkapkan Surya Dharma Mandala, Direktur Es Krim Unilever,
tahap pertama untuk karier di bidang pemasaran adalah menjadi management
trainee
(MT). Di posisi ini, peserta program MT akan diputar ke berbagai
bagian, mulai dari penjualan, riset konsumer hingga pemasaran. Jika
lulus, menjadi asisten manajer merek. Dijelaskannya, selama pelatihan,
peserta MT diberi pembekalan mengenai dasar-dasar pemasaran dan
organisasi di Unilever, sehingga ketika menjadi asisten manajer, mereka
sudah punya jejaring di perusahaan dengan divisi-divisi lain. Setelah
asisten manajer merek, sesuai dengan prestasinya akan diangkat menjadi
manajer merek. ?Di posisi brand manager, mereka kembali akan diputar,
mulai dari yang simpel, yang kecil, ke brand yang besar,? ungkapnya.
Lulus dari manajer merek, dipromosikan menjadi manajer merek senior.
Setelah itu, ke manajer pemasaran, lalu direktur pemasaran.

Struktur tersebut, menurut Surya, merupakan pola baku yang diterapkan
Unilever secara global. Tidak hanya polanya, tetapi standar yang
ditetapkan juga sama di setiap negara. Sehingga, kualitas karyawan
Unilever pada level yang sama akan (kurang-lebih) sama di negara mana
pun. Dijelaskannya, tidak ada patokan baku berapa lama waktu yang
dibutuhkan untuk melewati satu level jabatan. Semua bergantung pada
performa masing-masing.

PT P & G Home Product Indonesia juga menganut pola yang sama dengan
Unilever. Bambang Sumaryanto, Direktur Hubungan Eksternal P & G,
menuturkan, tidak ada patokan waktu yang ditentukan untuk melewati satu
level jabatan, karena semua benar-benar dilandasi performa kerja.
?Karyawan yang sangat berprestasi akan dapat berkembang kariernya lebih
cepat, termasuk perkembangan kariernya di regional maupun
internasional,? ujar Bambang.

Kendati enggan menjelaskan secara detail struktur organisasi pemasaran
di P & G, Bambang menyebutkan bahwa di perusahaannya, divisi pemasaran
dipisahkan dari penjualan. Pemasaran diharapkan benar-benar fokus untuk
mengerti tentang konsumen (pemakai) produk P & G. Adapun bidang
penjualan yang ditangani tim Pengembangan Bisnis Pelanggan fokus pada
pelanggan (intermediaries) atau pihak yang berperan membantu P & G
mendekatkan produk ke konsumen.

Bagaimana dengan perusahaan lokal? Menurut Budiman, Kepala Pemasaran
Garudafood, struktur organisasi pemasaran di tempatnya tak berbeda jauh
dari perusahaan sejenis yang menggunakan istilah manajer produk atau
manajer merek. Namun yang jelas, karena secara legalitas perusahaan ini
cenderung menggunakan konsep job marketing driven company ketimbang
manufacturing driven company, jualannya lebih ke bidang pemasaran dan
membangun merek. ?Tak mengherankan, titel-titel yang digunakan dalam
jajaran tim pemasaran kami lebih fokus kepada brand management
dibandingkan dengan product manager,? ungkapnya.

Swa.co.id

About these ads

1 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

  1. saya juga kebetulan dalam waktu2 dekat ini akan bekarja di bidang marketing, ya jujur harus target tpi aku akan berusaha gak ngecewain apalagi posisi aku juga magang tpi aku pecaya dengan usaha keras aku pasti bisa!!!


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: